ANTARA Dr. AAFIA SIDDIQUI dengan Putri Ariani
Tanpa agama manusia binasa Tanpa ilmu manusia buta Tanpa iman manusia sengsara Tanpa ukhuwah manusia terseksa Ada agama datangnya pelita Ada ilmu datangnya harta Ada harta datangnya derma Ada ukhuwah datangnya saudara
Monday, 19 June 2023
Sunday, 8 May 2022
HAMKA
KISAH KETEGUHAN ISTRI BUYA HAMKA
Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka menikahi Siti Raham pada 5 April 1929. Saat itu usia Hamka 21 tahun, usia Siti Raham 15 tahun. Dari pernikahan ini lahir 10 anak yang masih hidup sampai dewasa. Ada dua anak yang meninggal saat kecil dan dua anak yang keguguran.
Menikah dengan Hamka, Siti Raham tetap tegar mengarungi hidup dalam kekurangan. “Kami hidup dalam suasana miskin. Sembahyang saja terpaksa bergantian karena di rumah hanya ada sehelai kain sarung. Tapi, Ummi kalian memang seorang yang setia. Dia tidak minta apa-apa di luar kemampuan Ayah,” tutur Buya Hamka yang direkam Rusydi dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka (1981).
Dalam keluarga, Siti Raham dipanggil Ummi. Sedangkan Siti Raham memanggil Hamka dengan sebutan Angku Haji. Kendati mendampingi Hamka berkeliling berbagai daerah, logat Sungai Batangnya tak hilang. Selain di Padang Panjang, Siti Raham membersamai Hamka di Makassar selama 3 tahun, di Medan selama 11 tahun, dan di Jakarta selama 22 tahun.
Hamka memang bukan pegawai atau pedagang. Penghasilannya semata-mata dari honorarium menulisnya. Karirnya melesat saat di Medan. Hamka diminta mengurusi majalah Pedoman Masyarakat. Majalah ini telah terbit sebelum Hamka berkecimpung. Sejak 1936, Hamka menggarap majalah itu.
Selain menulis artikel, Hamka juga menerbitkan buku. Di sisi lain, Hamka telah menjadi aktivis Muhammadiyah dan memberikan pengajian di mana-mana. Namun, nasib berputar 180 derajat ketika fitnah menerpa Hamka. Kawan-kawan dekatnya menjatuhkan martabatnya. Di Medan, Hamka murung dan gelisah.
Siti Raham yang menyaksikan suaminya suka melamun akhirnya bersuara, “Tak ada gunanya Angku Haji termenung seperti ini berlarut-larut. Jangan dengarkan kata orang yang tengah marah. Sebelum kita jadi gila memikirkannya, mari kita bawa anak-anak.”
Rusydi memaparkan, “Besoknya Ummi melelang barang-barangnya yang tak bisa dibawa ke kampung. Ummi pula yang mengurus kendaraan untuk membawa kami ke Padang Panjang.”
Kembali ke Padang Panjang, kondisi ekonomi terpontang-panting. Hamka tak punya penghasilan tetap. Penghasilannya sebagai juru tabligh tak seberapa. Rusydi mengenang, “Anak-anak memang tidak kelaparan, karena Ummi menjual harta benda simpanannya yang dibawa dari Medan. Kalung, gelang emas, dan kain-kain batik halus yang dibelinya di Medan sewaktu Ayah masih menjadi hoofdredakteur Pedoman Masyarakat, dijual dengan harga di bawah pasar, untuk dibelikan beras dan biaya sekolah anak-anak.”
Siti Raham berusaha tabah kendati sering menitikkan air mata saat mengambil kain-kain simpanannya dari almari. Melihat kondisi itu, Hamka terenyuh. Sempat ia menawarkan agar kain Bugisnya ikut dijual.
“Kain Angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja, karena Angku Haji sering keluar rumah. Di luar jangan sampai Angku Haji kelihatan sebagai fakir yang miskin,” katanya.
Kepiluan ternyata tak kunjung reda. Saat Belanda berhasil menduduki Padang Panjang saat Agresi Militer Kedua pada 1948, seluruh kampung dalam pengepungan. Saat itu Hamka berkeliling sebagai juru penerangan rakyat. Tugas ini menyebabkan Hamka tak menjumpai keluarganya berminggu-minggu.
Dalam kekalutan, sesama tetangga tak bisa membantu. Semua orang sedang susah. Malah beberapa orang mati kelaparan. Barang yang dijual Siti Raham tak ada lagi.
Agar semua anak bisa makan, beras dimasak menjadi bubur. Semua anak bisa kebagian. Kalau beras tak didapatkan, makan ubi tak lagi terpaksa.
Setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia, Hamka sekeluarga pindah ke Jakarta pada Januari 1950. Sejak tahun itu pula Hamka menjadi pegawai negeri Kementerian Agama golongan F. Namun, pada 1959, ada peraturan pemerintah bahwa pegawai negeri tidak boleh dobel tugas di partai politik.
Hamka yang aktif di Masyumi dilanda dilema. Hamka meminta pertimbangan istrinya. Siti Raham menjawab, “Jadi Hamka sajalah!”
Rusydi memberi kesaksian, “Saya tak melihat tanda-tanda kecemasan sedikit pun pada wajah Ummi, yang pasti akan kehilangan sekian ribu rupiah gaji, serta beras beberapa liter, yang selama beberapa tahun kami tunggu setiap bulan.”
Malam harinya, Siti Raham mengumpulkan anak-anaknya. “Ummi mengatakan, bahwa keadaan Ayah di hari-hari mendatang tidak begitu cerah, karenanya Ummi berharap kami tidak minta yang tidak-tidak. Kalau perlu yang sudah sanggup bekerja, mulailah mencari pekerjaan,” tulis Rusydi.
Siti Raham sangat menjaga kehormatan Hamka. Setiap Hamka keluar rumah, ia memastikan pakaian yang dikenakan suaminya bersih dan tidak sembarangan. Hamka telah menjadi milik masyarakat.
“Hormati tamu Ayah kalian. Kalau kalian lihat penyambutan mereka di daerah-daerah, kalian akan tahu betapa mereka menghormati Ayah seperti raja,” kata Siti Raham kepada anak-anaknya.
Ada kejadian ketika Hamka melawat ke Makassar. Saat itu Siti Raham diminta berpidato. Dia tak pernah naik mimbar, namun dengan percaya diri berpidato juga. Pidatonya membuat banyak orang riuh bertepuk tangan dan meneriakkan, “Hidup Ummi, hidup Ummi!”
“Waktu itu Ayah menitikkan air mata terharu,” kata Hamka kepada Rusydi. Apa yang disampaikan Siti Raham?
“Saya diminta berpidato, tapi sebenarnya Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak sendiri memaklumi, bahwa saya tak pandai pidato. Saya bukan tukang pidato seperti Buya Hamka. Pekerjaan saya adalah mengurus tukang pidato, dengan memasakkan makanan hingga menjaga kesehatannya. Oleh karena itu, maafkan saya tidak bisa bicara lebih panjang,” ucapnya.
Hidup dalam kesusahan merupakan sepenggal episode Siti Raham dalam mendampingi Hamka. Mereka juga melewati masa senang dan canda tawa.
Betapa besar perjuangan dan ketegaran Siti Raham, seorang perempuan yang sebenarnya turut menjadikan Hamka sebagai manusia besar. Wallahu a’lam.
(Hendra Sugiantoro. Artikel pernah dimuat di Iqra.id, 29 Mei 2021).
Sumber Foto: Hamka dalam Kenang-Kenangan Hidup.
Friday, 17 December 2021
Hutang Pada Anak
Hutang Kita Banyak Pada Anak-Anak
Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah.
Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan.
Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan
Tetapi,
seburuk apapun kita memperlakukan mereka, se galak apapun kita kepada mereka, se marah apapun kita pernah membentak mereka...
Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya.
Menghibur kita dengan tawa kecilnya,
Menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya,
Seolah semuanya baik-baik saja,
seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita,
meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.
Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka,
tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita.
Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka,
tetapi,
Sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan.
Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita,
melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.
Kita berhutang banyak pada anak-anak kita.
Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap dan bermain dengan mereka?
Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?
Tentang anak-anak,
Sesungguhnya merekalah yang selalu "lebih dewasa" dan "bijaksana" daripada kita.
Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.
Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita.
Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi.
Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa.
Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri.
Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.
Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.
Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang & penyesalan, katakan kepada mereka:
"Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan"
Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Allah tak berkenan.
Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya.
Iya, lebih baik dari sebelumnya.
Selamat memeluk anak-anak kita.
Thursday, 9 December 2021
UNGKAPAN JUJUR SEORANG ANAK
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.
Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.
Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.
"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya. "Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit.
Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian.
Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika.
Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja."
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas.
Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya.
Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah.
Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.
Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu".
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika.
Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.
Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya."
Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana.
Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.
Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan.
Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur.
Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.
Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.
Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".
Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.
Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....",
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan.
Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku".
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah.
Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.
Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata, "tersenyum".
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya.
Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.
Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..."
Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus"
Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .."
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.
Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak.
Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia.
Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".
Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya.
Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.
~ Lesminingtyas
Friday, 3 December 2021
Kopi dan Gula
Filosofi Kopi dan Gula
Jika kopi terlalu pahit
Siapa yang salah?
Gula lah yang di salahkan karena terlalu sedikit hingga "rasa" kopi pahit
Kasus 2
Jika kopi terlalu manis
Siapa yang disalahkan?
Gula lagi karena terlalu banyak hingga "Rasa" kopi manis
Kasus 3
Jika takaran kopi & gula balance
Siapa yang di puji...?
Tentu semua akan berkata...
Kopinya mantaaap
Kemana gula yang mempunyai andil
Membuat "rasa" kopi menjadi mantaaap
Filosofi Kopi dan Gula
Mari Ikhlas seperti Gula yang larut tak terlihat tapi sangat bermakna.
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada KOPI, tapi orang MENYEBUTnya KOPI MANIS... bukan KOPI GULA...
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada TEH, tapi orang MENYEBUTnya TEH MANIS... bukan TEH GULA...
ORANG menyebut ROTI MANIS... bukan ROTI GULA...
ORANG menyebut SYRUP Pandan, Syrup APEL, Syrup JAMBU....
padahal BAHAN DASARnya GULA....
Tapi GULA tetap IKHLAS LARUT dalam memberi RASA MANIS...
Filosofi Kopi dan Gula
akan tetapi apabila berhubungan dgn Penyakit, barulah GULA disebut..PENYAKIT GULA
BEGITUlah HIDUP.... Kadang KEBAIKAN yang Kita TANAM tak pernah diSEBUT Orang....
Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan...
IKHLASlah seperti GULA...
LARUTlah seperti GULA...
Tetap SEMANGAT memberi KEBAIKAN...!!!!
Tetap SEMANGAT menyebar KEBAIKAN..!!!
Karena KEBAIKAN tidak UNTUK DISEBUT...
tapi untuk DIRASAkan...
Mari minum kopi
Filosofi Kopi dan Gula berumber dari grup WA.
Monday, 22 November 2021
NEGERI TANPA AYAH
Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola
AYAH itu gelar untuk lelaki yang mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar ‘membuat’ anak
Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi
AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja
Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yang tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah
Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?
Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab
AYAH durhaka bukan yang bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yang menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya
AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya
AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya
Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country
Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?
Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi
Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya
Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yang peduli
Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH
Ingatlah....!!!
Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yang merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggung jawaban kelak.
Jadi, kepada seluruh AYAH....
Siapkanlah jawabanmu dihadapan Allah Ta'ala atas amanah anak yang ada di pundak² kalian.
Tuesday, 15 June 2021
HUTANG DAN PAHLAWAN
SEPELE tapi memang BENAR
Kata Miliarder Hongkong "Li Ka-shing":
"Hal Apa yang Tersulit? Pinjam Uang!".
Kalau Ada Orang Ingin Meminjam Uang Padamu,
Jawablah Seperti Ini…!
Orang yang mau meminjamimu uang, adalah pahlawanmu.
Apabila orang tersebut memberimu pinjaman tanpa syarat, maka ia adalah pahlawan tertinggi di antara pahlawan- pahlawanmu yang lain.
Sampai saat ini, pahlawan seperti ini tidak banyak.
Jika kamu sampai menemukan mereka, hargailah seumur hidupmu!
Orang yang bisa bersedia meminjamkan uang ketika kamu kesulitan, bukanlah karena ia punya banyak uang, tapi karena ia ingin menarikmu saat jatuh.
Yang dipinjamkannya kepadamu juga bukanlah uang, melainkan ketulusan, kepercayaan, dukungan dan kesempatan untuk kamu berinvestasi di masa depan.
Saya sangat berharap sobat- sobat sekalian jangan sekali- kali menginjak "kepercayaan", sekali orang lain kehilangan kepercayaan padamu, maka hidupmu pasti hancur!
Ingat, kepercayaan orang lain adalah harta seumur hidup!
Selain itu, tolong kamu catat perkataan di bawah ini:
1. Orang yang suka inisiatif mentraktir, bukanlah karena ia punya banyak uang, tapi karena ia memandang "pertemanan lebih penting" dari pada hartanya.
2. Orang yang suka mengalah saat bekerja sama, bukanlah karena ia takut, melainkan tahu apa artinya "berbagi".
3. Orang yang bersedia bekerja lebih keras dari orang lain, bukanlah karena ia bodoh, tapi karena mengerti apa artinya "bertanggung jawab".
4. Orang yang terlebih dulu minta maaf saat berdebat, bukanlah karena mengaku salah, melainkan tahu artinya "menghargai".
5. Orang bersedia membantumu, bukan karena berhutang, tapi karena menganggapmu sebagai "teman".
Sudah berapa banyak orang yang tidak memperhatikan logika ini? Sudah berapa banyak orang yang menganggap pengorbanan orang lain adalah "hal yang semestinya"?
Bila orang tulus berjalan, ia akan jalan sampai ke dalam hati.
Bila orang munafik berjalan, cepat atau lambat ia akan ditendang sampai keluar dari pandangan orang lain!
Bila pertemuan di antara manusia adalah jodoh, maka hal yang diandalkan hanyalah ketulusan dan kepercayaan!
Kamu mau menjadi orang seperti apa, semuanya adalah pilihanmu dan karna u sendiri
Percayalah, hubungan antar manusia harus mengandalkan kepercayaan!
Terserah kamu mau pinjam uang atau tidak, yang terpenting kamu harus memberikan kepercayaan!
copyright@ 2021
Monday, 15 February 2021
Gelarmu di Dunia
*SEORANG SARJANA S3, SUDAH JADI DOKTOR ATAU PROFESOR, DIA RELA MENINGGALKAN PEKERJAAN DUNIANYA, HANYA DEMI MONDOK UNTUK MEPELAJARI AL-QUR'AN DAN MENGHAFALKAN AL-QUR'AN 30 JUZ*
*PADAHAL GAJI NYA BESAR*
*DAN UMURNYA JUGA SUDAH LUMAYAN TUA, TAPI MASIH MAU BELAJAR MENDALAMI AL-QUR'AN*
*BELIAU MEMILIH UNTUK MONDOK BELAJAR AL-QUR'AN SEBAGAI PERSIAPAN MENGHADAP ALLAH NANTI*
*Tulisan Rektor ITS, Prof Joni Hermana di wall FB nya*
Coba simak kutipan inspiratif di bawah ini yang menggugah... .
Dulu di kala aku kecil, aku sll mendpt peringkat 1 baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA...
Semua merasa senang, ibu & ayah pun sll memelukku dg bangga. Klrg sgt senang melihat anaknya pintar & berprestasi.
Aku masuk perguruan tinggi ternama pun, tanpa embel2 test.
Org tua & teman2 ku merasa bangga thd diriku.
Tatkala aku kuliah *IPK ku sll 4 & lulus dg predikat cum laude*.
Semua bahagia, para Rektor menyalami ku & merasa bangga memiliki mahasiswa spt diriku, jgn ditanya ttg org tua ku, tentunya mrk org yg paling bangga, bangga melihat anaknya lulus dg predikat cum laude. Teman2 seperjuangan ku pun gembira. Semua wajah memancarkan kebahagiaan.
Lulus dr perguruan tinggi aku bekerja di sbuah perusahaan *Bonafit. Karirku sgt melejit & gajiku sgt besar*.
Semua pun merasa bangga dg diriku, semua rekan bisnisku sll menjabat tgn-ku, semua hormat & mnghargai diriku, teman2 lama pun sll menyebut namaku sbg slh satu org sukses.
Namun ada sesuatu yg tak prnh kudptkan dlm perjalanan hidup ku slm ini. Hatiku sll kosomg & risau. Perasaan sepi sll memghantui hari2ku. Ya.. aku terlalu mengejar duniaku & mengabaikan akhiratku...
*Aku sedih...........*
Ketika aku berikrar utk berjuang bersama barisan *Pembela Rasulullah Saw & ku buang sgl title keduniaanku* kutinggalkan dunia ku utk mengejar akhirat & ridhaNya. Seketika itu pula dunia terasa berbalik. Yaa... Dunia spt berbalik. Ku putuskan utk mrantau & memilih mempelajari *ilmu Al-Qur'an & hadist & kuhafalkan Al-Qur'an 30 juz*.
Semua org mencemooh & memaki diriku. Tak ada lg pujian, senyum kebanggaan, peluk hangat dll. Yg ada hanyalah cacian...
Terkadang org memaki diriku, *buat apa sekolah tinggi2 kalau akhirnya masuk pesantren dia itu org bodoh.....* Udh punya pekerjaan enak ditinggalin...
Berbagai caci & maki tertuju pd diriku, bahkan dr klrg yg tak jarang membuat diriku sedih... 😪
"Apa ada lulusan perguruan tinggi terkenal masuk pondok tahfidz..? Ga sayang apa udh dpt kerja enak, mau makan apa & dr mana lg..?
Kata mereka...
Ya.., pertanyaan2 itu trs menyerang & menyudutkan diriku.
*Hingga suatu ketika*
Ketika fajar mulai menyingsing ku ajak ibu utk shalat berjamaah di masjid, masjid tmpt dimana aku biasa mnjd imam.
Ini adalah shalat subuh yg akan sll ku kenang.
Ku angkat tangan seraya mengucapkan takbir. *Allaaahuu akbar*_
ku agungkan Allah dg seagung2nya.
Ku baca doa iftitah dlm hati ku, berdesir hati ini rasanya....
Kulanjutkan membaca...
*Al-Fatihah*
*Bismillahirrahmaanirrahiiim*, (smp disini hati ku bergetar ), ku sebut namaNya yg maha pengasih & maha penyayang..
*Alhamdulillahirabbil alamiin*...
Ku panjatkan puji2an utk Rabb semesta alam..
Kulanjutkan bacaan lambat2, ku hayati surah al-fatihah dg seindah2nya tadabur, *tanpa terasa air mata jatuh membasahi wajahku*....
Berat lidah ku utk melanjutkan ayat, *Arrahmaanirrahiim*,
ku lanjutkan ayat dg nada yg mulai bergetar....
*Malikiyaumiddin*, kali ini aku sdh tak kuasa menahan tangisku.
*Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaiin*, "yaa Allah hanya kpdMu lah kami menyembah & hanya kpdMu lah kami meminta pertolongan."
Hati ku terasa tercabik2, sering kali diri ini menuntut kpd Allah utk memenuhi kebutuhanku, tp aku lalai melaksanakan kewajibanku kpd-Mu...
Sampai lah aku pd akhir ayat dlm surah Al-Fatihah. Ku seka air mata & ku tenangkan sejenak diriku.
Selanjutnya aku putuskan utk membaca *Surah _Abasa*'_. Ku hanyut dlm bacaan ku, terasa syahdu, hingga terdengar isak tangis jamaah sesekali. Bacaan trus mengalun, hingga sampai lah *pada ayat 34. Tangisku memecah sejadi2nya*.
*Yauma yafirrul mar'u min akhii, wa ummihii wa abiih, wa shaahibatihi wa baniih, likullimriim minhum yauma idzin sya'nuy yughniih...*
Tangisku pun memecah, tak mampu ku lanjutkan ayat tsb, tubuhku terasa lemas....
Stlh shalat subuh selesai, dlm perjlnan plg, ibu bertanya : "mengapa kamu menangis saat membaca ayat tadi, apa artinya..?"
Aku hentikan langkahku & aku jelaskan pd ibu. Kutatap wajahnya dlm2 & aku berkata :
*Wahai ibu........*
Ayat itu mnjelaskan ttg huru hara padang mahsyar saat kiamat nanti, semua akan lari meninggalkan sudaranya...
Ibunya...
Bapaknya..
Istri & anak2nya..
Semuanya sibuk dg urusannya masing2.
Bila kita kaya org akan memuji dg sebutan org yg berjaya...,
Namun ketika kiamat terjadi apalah gunanya sgl puji2an manusia itu....
Semua akan meninggalkan kita. Bahkan ibupun akan meninggalkan aku...
*Ibu pun meneteskan air mata, ku seka air matanya...*
Ku lanjutkan, *Aku pun takut bu bila di Mahsyar bekal yg ku bawa sedikit..*
Pujian org yg ramai slm bertahun2 pun kini tak berguna lg...
Lalu knp org beramai2 menginginkan pujian & takut mendpt celaan. Apakah mrk tak menghiraukan kehidupan akhiratnya kelak...?
Ibu kembali memelukku & tersenyum. Ibu mengatakan, *betapa bahagianya punya anak spt dirimu...*
Baru kali ini aku merasa bahagia, krn ibuku bangga thd diriku...
Brbagai pencapaian yg aku dpt dulu, walaupun ibu sama memeluk ku namun baru kali ini pelukan itu sgt membekas dlm jiwaku.
*Wahai manusia sebenarnya apa yg kalian kejar..?*
*Dan apa pula yg mngejar kalian..?*
*Bukankah maut semakin hari semakin mndekat...?*
Dunia yg menipu jgn sampai menipu & membuat diri lupa pd negeri akhirat kelak...
*Wahai saudara2ku, apakah kalian sadar nafas kalian hanya bbrp saat lagi.......?*
*Seblm lubang kubur kalian akan digali..*
Apa yg aku & kalian banggakan di hadapan Allah & RasulNya kelak...?
*Wallahua'lam.......*
Catatan:
.
Jika antum mau share niatkanlah dengan baik mudah-mudahan bisa jadi obat bagi masalah Anda dan kita semua.....Aamiin 3x YRA...
*Boleh di SHARE sebanyak mungkin...*🙏
Wednesday, 18 November 2020
KATA SIAPA ROKOK HARAM...!!!???
BISMILLAH
KATA SIAPA ROKOK HARAM...!!!???
GURU : “Syeikh, menurut saya rokok itu tidak haram.”
Syeikh : “Kenapa?”
Guru : “Tak ada dalilnya. Saya ingin tahu, satu ayat saja yang menyebutkan ‘diharamkan atas kalian rokok’.”
Syeikh : “Apakah Anda makan jeruk, apel, maupun pisang?”
Guru : “Iya.”
Syeikh : Apakah” ada ayat yang menyebutkan bahwa jeruk, apel maupun pisang itu halal?”
Guru : “Tidak ada.”
Syeikh : “Bagaimana tidak ada, bagaimana Al Qur’an tidak menyebutkan mana yang halal dan mana yang haram, padahal Qur’an itu pedoman umat. Coba perhatikan firman Allah Ta’ala dalam surat al-A’raf : (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan MENGHALALKAN bagi mereka segala yang BAIK dan MENGHARAMKAN bagi mereka segala yang BURUK..(QS al A’raf 157).”
“Maka segala yang baik semisal daging (halal). jeruk, apel, susu dan lain-lain itu termasuk yang baik-baik sehingga termasuk yang
dihalalkan. Adapun yang buruk- buruk, maka Allah mengharamkannya.”
Guru : “Menurut kami, rokok itu termasuk thayyibaat (yang baik-baik), meskipun menurut Anda tidak baik.”
Syeikh : “Anda punya istri?”
Guru : “Ya…”
Syeikh : “Anda punya anak?”
Guru : “Ya …”
Syeikh : “Jika kaulihat anakmu memakan pisang, apakah kamu ridha?”
Guru : “Ya, tidak masalah…”
Syeikh : “Kalau kaulihat anakmu sedang menghisap rokok, apakah kamu ridha?”
Guru : “Tidak…”
Syeikh : “Kenapa?”
Guru : “Karena itu tidak baik (yakni termasuk sesuatu yang buruk).”
Syeikh: “Jika itu sesuatu buruk, bukankah masuk yang haram? Bagaimana pula jika yang merokok itu istrimu?”
Tiba-tiba sang guru mengeluarkan bungkusan rokok dari sakunya, ia meremas dengan tangannya lalu menginjak dengan kakinya, lalu ia berkata, “Mulai sekarang wahai Syeikh, saya bertaubat kepada Allah dari rokok.”
Jika rokok haram siapa yang akan hidupi petani tembakau?
Jika ganja haram siapa yang akan hidupi petani ganja?
Jika mencuri haram siapa yang akan hidupi maling?
Jika korupsi haram siapa yang akan hidupi koruptor?
Jika narkoba haram siapa yang akan hidupi kartel narkoba?
*Kalau cuma alasan pembenaran seperti itu, siapapun juga punya.*
Mengapa ibu hamil tidak boleh merokok...?
karena ROKOK tidak baik untuk si hamil dan calon bayinya.
Mengapa para pelajar tidak boleh merokok...?
karena ROKOK bukan ajaran baik, dan pelajar tidak diajarkan yg tidak baik.
Mengapa di toko buku, perpustakaan, majalah dan Koran tidak ada tuntunan cara merokok...?
karena jelas, ROKOK sesuatu yang tidak baik,
buat apa capek" mikir dan nulis faedah rokok, Kan Kaga bakal nemu.
Allah Ta'ala Berfirman
ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻠْﻘُﻮﺍ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻬْﻠُﻜَﺔِ ۛ.
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." [ QS. Al Baqarah 195 ]
Rosulullah Shollallahu 'alayhi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang menghirup racun (dengan sengaja) hingga mati, maka ia akan menghirup racun itu selama-lamanya di neraka Jahannam." [HR. Al Bukhari dan Muslim]
Sebarkanlah Ilmu ini.
Semoga Bermanfaat
Yang masih merokok jangan marah ya
Sunday, 8 November 2020
Mundur kebelakang
MUNDUR KE BELAKANG MANA YANG ANDA MAKSUDKAN?
Suatu ketika, sesorang bertanya kepada Dr. Muhammad Imarah dengan pertanyaan yang sedikit mengejek dan mengolok:
"Saya dengar, Anda ingin sekali syariah Islam ini diterapkan, apakah Anda ingin membawa kami mundur ke belakang?"
Mendapatkan pertanyaan bernada merendahkan itu, beliau pun menjawab dengan balik bertanya:
"Ke belakang yang mana maksud Anda?
Apakah belakang yang anda maksud adalah 100 tahun yang lalu, saat Islam menguasai separuh dunia selama 500 tahun?
Atau maksud anda lebih jauh lagi ke belakang saat dimana Dinasti Mamalik (Mamluk) menyelamatkan dunia dari ganasnya serbuan Mongol dan Tartar?
Atau lebih jauh lagi ke belakang saat Dinasti Abbasiyyah menguasai separuh dunia?
Atau ke belakang sebelumnya, di masa Dinasti Umayyah, atau sebelumnya lagi saat Umar bin Khatab menguasai banyak kawasan di dunia ini?
Atau di masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, saat beliau mengirim surat ke penguasa Imperium Romawi kala itu, Naqfur, beliau menulis:
"Dari Harun Ar-Rasyid Amirul mukminin, kepada Naqfur Anjing Romawi (كلب الروم)"
Atau ke belakang saat Abdurrahman ad-Dakhil bersama pasukannya berhasil menaklukkan Italia dan Prancis? Itu jika dalam bidang politik.
Atau maksudmu ke belakang adalah dalam bidang keilmuan, ketika ulama Arab seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Alkhawarizmi, Ibnu Jabir, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun dll, mengajarkan dunia Arab dan dunia barat tentang ilmu kedokteran, farmasi, arsitektur, falak dan sastra?
Atau ke belakang maksudmu dalam hal kehormatan?
Ketika seorang Yahudi kafir mengerjai seorang muslimah hingga terlepas baju abayanya sampai ia berteriak histeris, maka Khalifah Al Mu'tashim mengirim pasukan untuk membalas apa yang dia lakukan dan mengusir orang Yahudi dari negaranya.
Sementara hari ini, para muslimah diperkosa sedangkan pemimpin negeri muslim hanya diam tak bisa berbuat apa-apa?
Atau ke belakang maksudmu saat kaum muslimin membangun universitas pertama di Spanyol yang menggemparkan Eropa kala itu, sehingga sejak itu, pakaian jubah longgar besar dari Arab itu menjadi pakaian wisuda hampir semua universitas dunia?
Dan dibagian atasnya ada topi yang datar dimana dahulu dijadikan tempat meletakan alquran saat wisuda?
Atau maksudmu mundur kebelakang saat Kairo dan Bagdad menjadi kota terindah didunia?
Atau ketika 1 Dinar Iraq setara dengan 483 dollar usa, atau saat orang orang eropa melarikan diri ke alexandria (mesir) karena dilanda kemiskinan, atau ketika Amerika meminta bantuan Mesir untuk menyelamatkan eropa dari bahaya kelaparan?
Tolong beritahu padaku mundur kebelakang mana yang kau maksud ??
Dan sipenanya hanya bisa terdiam membisu tidak tahu apa yg mesti diucapkan. kalah telak,.!!!
Alih bahasa : Ahmad Budiman, Lc
Monday, 17 August 2020
🌹S E P É L É_🌹
Seorang wanita muda tengah duduk santai di dalam bis yang melaju ke tengah kota. Di satu pemberhentian bis, seorang wanita tua yang cerewet dan berisik naik ke dalam bis dan duduk di samping wanita muda tadi. Tas-tas bawaannya yang berat dia tumpuk begitu saja di atas kursi, membuat wanita muda itu harus menggeser duduknya sambil setengah terjepit di antara tas-tas berat dan jendela bis.
Seorang pemuda yang duduk di bangku sebelah melihat kejadian itu dengan kesal, dan bertanya kepada wanita muda itu,_ _"Kenapa kamu tidak bicara saja, katakan pada wanita tua itu bahwa kamu jadi terganggu...
Wanita muda itu menjawab sambil tersenyum :
Aku rasa tidak perlu bersikap kasar dan beradu argumentasi untuk sesuatu yang sepele seperti ini, *perjalanan bersama kita ini terlalu singkat. Saya juga akan turun di perhentian bis berikutnya di depan nanti
Jawaban wanita muda tadi sangat pantas untuk ditulis dengan huruf emas :
"Kita tidak perlu berdebat untuk sesuatu yang sepele. Perjalanan kita bersama amat singkat."
Kalau kita tahu bahwa *perjalanan hidup ini begitu singkat,* maka kita tidak akan mau membuang tenaga dengan terus mengeluh, merasa tidak puas, bersikap mencari-cari kesalahan... karena semua hanya membuang waktu kita di perjalanan yang singkat ini.
🌹Apakah seseorang sudah melukai bahkan menghancurkan hatimu ?? Tetaplah tenang, perjalanan hidupmu terlalu singkat.
🌹Apakah seseorang *Sudah Menghianati kamu, mengejek kamu, menipu atau bahkan menghina kamu ??
Tetaplah tenang, maafkan mereka, karena
perjalanan hidup kita sangat singkat.
🌹Apapun masalah yang dibuat oleh orang lain kepada kita, mari kita selalu ingat bahwa_ perjalanan hidup kita sangat singkat.
Tidak seorang pun yang tahu kapan perjalanan hidupnya akan berakhir.
Tidak ada orang yang tahu kapan dia akan tiba di perhentian bis yang berikutnya.
Perjalanan hidup kita bersama sangat singkat.
Mari kita saling memberikan kebahagiaan kepada keluarga dan teman-teman kita.
Mari kita saling menaruh hormat, saling berbuat baik dan saling memaafkan satu dengan yang lain.
Mari kita isi hidup ini dengan rasa syukur, bahagia dan selalu berbuat baik untuk sesama.
Hidup adalah WAKTU,
hargai waktu yang tersisa,
jalani hidup dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan.
Selalulah berbuat baik,
Selalulah menolong sesamamu,
Jangan pernah bersikap paling benar, dan berhentilah membicarakan kejelekan orang lain dan mengomel.
Nikmatilah hidup dan isi setiap detik, menit, jam, dan hari-harimu dengan kebaikan terutama pasangan hidup, bersama keluarga; ayah dan ibumu, jika mereka masih hidup muliakan mereka; anak-anakmu, saudaramu, handai-taulan, bahagiakan mereka semua selagi kamu masih punya waktu.
Lanjut usia adalah keniscayaan.Tidak ada yg bisa menolak nature untuk menjadi tua, terjadi perubahan anatomi. Tapi meski sudah lansia, kulit berubah menjadi keriput, rambut kepala menipis dan memutih semua, namun tetap berguna bagi diri sendiri dan sesama, yaitu Lansia yang senantiasa memancarkan aura cerah dan menarik, energik dan simpatik.
Jadilah Lansia yang memiliki ke 6 hal ini:
Pikiran yang tenang
Hati yang damai
Jauh dari kepura puraan
Tulus ikhlas ketika berbicara
Memberi sapaan dengan hati yang tulus
Menerapkan hidup berbagi
Back to nature,
maka pikiran dan batin kita akan bersih dari segala energy negative. Dari hati yang damai, akan terpancar aura yang mampu menebarkan kesejukkan dan kedamaian, dimanapun kita berada.
Jangan simpan kebencian, dendam, kepahitan dan kejelekan orang lain.
Lihatlah Kebaikan...Lupakan Kesalahan..
Tetaplah menjadi orang baik sampai akhir hidup
Bila sahabat atau saudaraku pernah menyakiti hatiku, aku sudah maafkan semua......
karena PERJALANAN hidup KITA TERLALU SINGKAT.
Monday, 10 August 2020
Emas dan Timbangan
TIMBANGAN EMAS TIDAK LEBIH BERHARGA DARI EMAS NYA
Dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada guru nya,
Murid : "jika memang benar para guru adalah orang orang pintar!, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang orang kaya raya itu?
Gurunya tersenyum bijaksana, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia masuk ke ruangan nya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan.
Ia meletakkan timbangan tersebut diatas meja, dan berkata : " Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram".
"Berapa harga emas seberat itu? "
Murid mengernyitkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia mejawab,
"Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 milyard rupiah".
Guru : " Baik lah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepada mu membawa timbangan ini dan ingin menjual nya seharga itu, adakah yang bersedia membeli nya? "
Murid terdiam sejenak!, merasa mulai mendapatkan sedikit pencerahan dari sang guru, lalu ia berkata : "timbangan emas tidak lebih berharga dari emas nya!, saya bisa mendapatkan timbangan ini dengan harga dibawah dua juta rupiah!, mengapa harus membayar sampai 4 milyar? "
Guru menjawab : " Nah, anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasi mu, kalian lah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar pengetahuan mu. "
"Jika ada seseorang datang kepada mu membawa sebongkah berlian ditangan kanan nya dan se ember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata : "ditangan kiri ku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kanan ku ini, tanpa keringat ini, tidak akan ada berlian, maka beli lah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian"
"Apakah ada yang mau membeli keringat nya? "
"Tentu tidak."
"Orang hanya akan membeli berlian nya dan mengabaikan keringat nya.
Biarlah kami, para guru menjadi keringat itu, dan kalian lah yang seharusnya menjadi berlian nya. "
Sang murid menangis, ia memeluk guru nya dan berkata : "wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlas nya, kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kepintaran kami, setiap kilau permata kami, ada tetes keringat mu...
Guru berkata : " Biarlah keringat itu menguap, menuju alam hakiki disisi ilahi rabbi, karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak pernik dunia ini, mohon jangan lupakan nama kami dalam doa doa kalian. "
Monday, 3 August 2020
HATI HATI MELEKATNYA SIFAT 'UJUB
UJUB adalah sikap mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.Imam al-Ghazali pernah berkata “Perasaan ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah.”Dalam hadits yang ma’ruf disebutkan,ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (H.R. Abdur Razaq, hadist hasan)Dalam hadis yang lain Rasulullah Saw juga bersabda: Tiga hal yang membinasakan : Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. ThabraniKadang sifat ujub ini timbul tanpa kita menyadarinya karena di poles oleh setan seolah olah itu baik untuk memicu semangat atau memancing yang orang lain agar berbuat baik , bahkan terkadang di pamerkan kegagahan, kekayaan, kepandaian , jabatan, kesuksesan bahkan tanpa di sadari ujubnya sampai ada ibadah di pamerkan !!! yang sangat berbahaya sekali sampai merehkan dan merendahkan orang lain karena merasa lebih dari yang lainAwas jaga hati Alloh tau isi hati orang yang ujub dgn dirinya (membanggakan kelebihan yang ada pada dirinya) berarti dia sedang menanti murka ALLOH dan amal apapun yang dia lakukan tidak diberi nilai sedikitpun oleh Alloh. NAU'ZUBILLAH.Nabi s.a.w bersabda, “Seseorang yang menyesali dosanya, maka ia menanti rahmat Allah. Sedang seseorang yang merasa ‘ujub, maka ia menanti murka Allah.” (HR. Baihaqi)Perasaan ‘ujub menyebabkan murka Allah, karena ‘ujub telah mengingkari karunia Allah yang seharusnya kita syukuri. Walloa'lam.
Saturday, 11 July 2020
Wanita Pelacur dan Wanita Bercadar
Oleh : _*Irene Radjiman*_
Inara baru saja pulang dari sharing di sebuah kajian di kota B. Seperti biasa ia selalu ditemani oleh suaminya.
Dari kota B mereka akan pulang menuju kota S tempat mereka tinggal.
Biasanya mereka melewati kota P, dimana Inara dan suami sering sekali melewati kota P dan mereka paham bila selepas maghrib akan ada banyak ukhti yang berpakaian mimimalis dengan bedak tebal dan bibir merah merekah bak kelopak mawar, berjejer dipinggir jalan atau diwarung kecil dengan cahaya lampu remang-remang.
Mereka biasa melambaikan tangannya pada setiap mobil mewah yang melintas, atau motor yang mereka lihat hanya ditumpangi oleh seorang pria.
Yaaa kalian pasti tahu siapa para ukhti itu.
Maaf jangan ada yang protes bila saya memilih menyebut mereka dengan sebutan *"ukhti"* sebab arti kata ukhti adalah _"saudara perempuan"_ bukan ?
_"Abi, bagaimana bila kali ini amplop dari kajian ini kita berikan pada salah satu ukhti yang biasa berdiri dipinggir jalan kota P nanti."_
Tanya Inara pada suaminya.
Sang suami melambatkan laju mobilnya.
"Kenapa ummi memilih salah satu dari mereka ?"
Suaminya balas bertanya.
_"Entahlah bi, ummi tidak tahu kapan terakhir kali mereka memakan makanan halal._
_Jangan-jangan ada salah satu dari mereka yang sedang menafkahi anak yang sedang belajar agama."_
"Bagaimana ummi bisa berpikir bahwa ada diantara mereka yang memberikan pendidikan agama untuk anak-anaknya ?"
_"Sejahat-jahatnya mafia, dia akan pilihkan hal-hal baik untuk buah hatinya bi. Sebab mereka manusia bukan iblis."_
Sejurus suami Inara terdiam.
Ada amplop berwarna coklat yang tergeletak di jok belakang.
Inara sering sekali diundang disebuah acara ataupun di sebuah kajian sebagai narasumber.
Banyak yang memanggilnya ustadzah, namun Inara selalu klarifikasi _"saya bukan ustadzah."_
Ia lebih nyaman dipanggil dengan sebutan "mbak" atau "bunda".
Inara tidak pernah tahu, berapa isi amplop yang selalu diselipkan oleh panitia disetiap bingkisan yang selalu dibawakan untuknya.
Inara dan suami sudah sepakat, tidak mau tahu jumlah nominalnya.
Uang dari ummat akan kembali untuk ummat.
Amplop itu biasanya akan diberikan pada siapa saja dimana hati Inara tergerak untuk memberikannya.
Bisa diberikan untuk tukang becak, kuli panggul, pemulung, gepeng, siapa saja lah.
Namun entah kali ini hati Inara tergerak untuk memberikannya pada salah satu ukhti yang berdiri di pinggir jalan sepanjang jalan kota P.
_"Abi, tolong berhenti disana, ditempat ukhti yang berdiri sendiri itu !"_
tunjuk Inara.
_"Perempuan yang pakai baju merah itu ?"_
"Iya."
Suami Inara menghentikan mobilnya tepat dihadapan wanita itu.
Wanita itu reflek mendekat dan mengetuk kaca mobil.
Kaca mobil dibuka.
Wanita itu nampak terkejut melihat wanita bercadar berada disamping pria yang cukup terbilang tampan yang berekspresi lurus dibelakang stir kemudi.
Wanita itu tersenyum kikuk sambil surut beberapa langkah kebelakang.
Inara mengambil amplop coklat di jok belakang.
Inara turun dari mobil sambil tersenyum.
Namun wanita itu tak melihat senyuman bibir Inara dibalik cadar.
_"Assalamualaikum mbak."_ sapa Inara
"Wa'alaikumusalam." wanita itu menjawab sambil menatap lekat Inara.
Seolah bingung apa keperluan wanita bercadar itu pada dirinya.
_"Maaf mbak, ini ada rejeki dari Allah. Saya tergerak untuk memberikannya pada mbak. Saya tidak tahu berapa nilai nominalnya, tapi saya berharap rizki ini akan membawa keberkahan bagi mbak sekeluarga. Mohon diterima ya mbak."_
Inara mengulurkan amplop coklat kearah wanita itu.
Wanita itu tidak segera menerimanya.
"Apa ini mbak ?"
Tanyanya pada Inara.
_*"Tadi saya baru mengisi kajian dikota B. Ini adalah amplop yang diberikan oleh panitia pada saya. Saya tidak pernah membuka ataupun menggunakan amplop ini, saya biasa memberikannya pada siapa saja melalui gerakan hati saya."_
"Apakah mbak tahu siapa saya ?'
_"Memangnya mbak siapa ?"_
"Saya ini wanita jalang mbak. Begitulah sebutan yang disematkan orang-orang pada manusia seperti saya. Itu adalah uang dakwah, saya tidak pantas menerimanya. Bawa kembali saja uang itu."
Bibir merah wanita itu bergetar saat menjawabnya.
_"Saya juga bukan orang suci mbak. Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ?_
_Saya ini sama dengan mbak._ _Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA._ _Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."_
Wanita berbedak tebal itu terjongkok, menangis tergugu. Eye liner yang ia gunakan sampai luntur.
Inara mendekat, merengkuh pundaknya.
Diraihnya tangan wanita itu, digenggamkannya pada amplop coklat yang ia bawa.
_"Semoga yang ada didalam amplop ini bisa menjadi pintu rejeki yang barokah bagi mbak sekeluarga dan mengeluarkan mbak dari ke tidak halalan selama ini. Saya mohon pamit ya mbak._ _Assalamualaikum."_
"Wa'alaikumusalam." Jawabnya masih dengan terisak.
Inara melangkah menuju mobilnya.
Sekuat tenaga ia tahan tetesan embun hangat yang sudah menggenang pada telaga matanya.
***********
Namaku *Amidah*.
Aku janda yang memiliki 4 orang anak.
Aku terjebak sebagai kupu-kupu malam sebab dijual oleh suamiku yang sudah mabok judi dan miras.
Namun akhirnya aku terbiasa dengan pekerjaan ini walau kini suamiku telah meninggal karena over dosis miras.
Walau aku pekerja haram, namun aku tak ingin anak-anakku kelak akan sebejat aku dan ayahnya.
Walau banyak gunjingan tidak sedap dari tetangga sekitar, aku tetap ikut sertakan anak-anakku pada pengajian mushola didekat kontrakanku.
Anakku yang paling besar sudah kelas 6 SD, sudah bisa mengurus adik-adiknya bila kutinggal.
Sudah seminggu ini aku tidak menjumpai pelanggan satupun.
Yah aku bukan PSK kelas kakap yang biasa dibayar puluhan juta perjam.
Aku hanyalah PSK kelas teri yang hanya dibayar 100 - 200rb permalam.
Bahkan bisa banting harga lebih murah bila sedang sepi pelanggan.
Yah... segitulah harga tubuhku.
Seminggu ini kami hanya makan nasi dan rebusan daun pepaya yang tumbuh subur dibelakang kontrakanku.
Sore itu aku hanya memiliki selembar uang 20rb.
Saat hendak berangkat mangkal seperti biasa kulihat ada seorang anak bertubuh kurus dan kumal berlarian dikejar oleh 2 orang laki-laki dan perempuan.
Anak itu kulihat bersembunyi dibalik semak-semak.
Tapi malang, bocah itu ketahuan.
Si laki-laki yang mengejar, tanpa ampun menyeret bocah itu keluar dari semak-semak.
Si wanita entah isteri laki-laki itu atau siapanya sudah siap hendak memukul bocah itu.
Reflek aku berlari kearah mereka.
_"Stop ! ada apa ini !"_
"Dia maling !" kata si laki-laki
"Iyaa... setan kecil ini sudah maling dagangan kami !"
si wanita tak kalah sengit.
_"Memangnya dia sudah maling apa ?"_ tanyaku
"Heh setan maling keluarkan barang curianmu !"
bentak si wanita.
Dengan ketakutan bocah cilik itu mengeluarkan 2 bungkus makanan.
Mungkin isinya nasi dan lauk.
"Nah ini ! saya lagi bungkusin nasi ini buat pesanan, baru ditinggal sebentar kedalam sudah dimaling sama setan ini !"
si wanita itu kembali menimpali.
_"Maaf bu, adik saya lagi sakit dirumah, sudah 3 hari nggak ada makanan, saya cuma minta 2 bungkus buat kedua adik saya."_ kuperhatikan bocah itu.
Sepertinya seumuran dengan anakku yang nomor 3.
Aku tiba-tiba teringat anakku.
Lalu kudekati wanita penjual nasi itu.
_"Berapa harga 2 bungkus nasi itu ?"_
"20rb !" Jawabnya ketus.
Kuambil uang 20rb semata wayangku dibalik dompet.
Kuserahkan pada wanita penjual nasi itu.
Akhirnya ia lepaskan bocah kurus kumal itu dengan kasar.
"Awas ya kalo kamu berani maling lagi !"
Katanya mengancam, sambil berlalu.
_"Terimakasih tante."_
Kata bocah itu menunduk sambil terus mendekap 2 bungkus nasi yang ia dapat dari warung.
_"Jangan mencuri lagi ya dek. Semoga adikmu segera sembuh."_
Bocah itu mengangguk, kemudian berlari secepat kilat dari hadapanku.
Saat anak itu berlalu aku kembali melanjutkan langkahku.
Kuhidupkan sebatang rokok untuk mengusir kegalauanku.
_"Ya Tuhan, daun pepaya dibelakang kontrakan sudah habis. Uang 20rb semata wayangku pun sudah tidak ada. Dengan apakah esok hari anak-anakku akan makan Tuhan ?! Mengapa setetes rizki harampun tak mudah kudapatkan ?"_
Tiba-tiba mobil yang cukup mewah berhenti dihadapanku.
Mataku berbinar penuh harapan.
Aku langsung mendekat dan kuketuk kaca mobilnya.
Saat kaca mobil itu terbuka langkahku langsung surut beberapa langkah kebelakang.
Kulihat seorang pria tampan dibalik kemudi, namun disampingnya kulihat ada malaikat bercadar.
Malaikat bercadar itu mengambil sesuatu di jok belakang mobil lalu keluar membawa amplop berwarna coklat.
Amplop itu ia berikan padaku.
Aku sempat menolak, sebab aku tahu itu adalah uang dakwah.
Tanganku terlalu kotor untuk menerima amplop yang didalamnya berisi infaq dari orang-orang beriman.
Namun malaikat itu justru mengatakan sesuatu yang membuatku menangis tergugu.
_"Saya juga bukan orang suci mbak_.
_Apakah mbak pikir saya orang baik karena memberikan rizki ini pada mbak ?_
_Saya ini sama dengan mbak. Dimana hati saya adalah milik pencipta kita dan berada didalam genggamanNYA._
_Saya juga tidak tahu, mengapa sang pemilik hati saya mengarahkan saya pada mbak untuk memberikan amplop ini."_
"Ya Tuhan... benarlah dia malaikat yang KAU kirim untuk menunjukkan betapa KAU sangat mencintaiku !"
Aku langsung bergegas pulang.
Didalam kamar kubuka isi amplop coklat itu.
Kuhitung lembar demi lembar kertas berwarna merah itu.
_Li... lima... ju... juta.... !!! 5 JUTA !!!_
Seumur hidup aku belum pernah memegang uang cash sebanyak ini !!!
Ya Allah !!
benarkah ini !!
Ampuni aku ya Allah !!
Aku pendosa menjijikkan ini KAU beri tunai hanya karena kuberikan lembaran uang 20rb, satu-satunya lembaran yang kupunya di hari ini pada bocah kurus kumal itu.
Ahh siapakah bocah kurus kumal itu ?
Aku juga tak tahu.
*********
Aku *Muhammad Yahya.*
Usiaku 12 tahun.
Sejak aku duduk dibangku kelas 4 SD aku sudah tahu apa yang dikerjakan oleh ayah dan ibuku.
Sindiran tetangga sudah tidak asing lagi bagiku.
Namun ibuku seperti tidak ingin kami tahu apa yang sudah ia lakukan bila pulang tengah malam.
Ibu selalu berkata padaku,
_"Yahya mengajilah yang rajin. Allah maha penyayang. Do'akan ibu agar Allah mengasihani ibu yang bodoh ini. Ibu banyak salah pada Allah."_
Aku hanya mengangguk.
Dalam hati aku menangis.
Setelah meniduri adik-adikku, aku selalu melakukan sholat sunnah taubat dan witir.
Aku minta Allah mengasihani ibu dan membukakan pintu ampunanNYA bagi ibu.
Setelah itu aku membaca Qur'an sambil menunggu ibu pulang.
Ibu tidak tahu kalau setiap bulan aku selalu qatamkan Al-Quran.
Aku selalu menangis setiap kali membaca Qur'an dan membayangkan apa yang sedang ibu lakukan di luar sana untuk menghidupi kami ber-4.
_"Ya Allah kasihanilah ibuku, lindungilah ia selalu, bukakanlah pintu ampunanmu bagi seluruh dosa-dosanya."_
Entah bagaimana cara Allah menjawab do'a - do'aku.
Kini yang kutahu, ibu sudah tidak lagi mengenakan pakaian mini.
Ia menggantinya dengan jilbab, walau belum sempurna.
Sudah tak pernah lagi keluar malam dan aku sudah tidak pernah lagi melihat ibu merokok.
Kini kami telah memiliki warung sembako.
_Alhamdulillah,_ akhirnya kami bisa mengecap rizki halal.
Ketika kutanya, darimanakah ibu dapatkan modal untuk membuka warung sembako ?
ibu menjawab,
_"Rizki halal dari langit yang dikirim melalui malaikat bercadar."_
Aku mengernyitkan kening.
_"Iya benar, ibu sendiri tidak pernah tahu, seperti apakah wajah malaikat itu."_
*************
Sore itu selepas ashar
"Ustadzah Riska !"
Inara memanggil dengan nada berbisik setengah berteriak.
Ustadzah Riska menoleh.
"Aku Inara."
Inara langsung mendekat.
"Oohh bunda Inara !
kok bisa ada disini, habis darimana ?"
“Aku mencari rumah wanita ini."
Inara menunjuk foto seorang wanita di layar hp.
Saat dulu Inara memberikan amplop coklat itu, suaminya sempat memotret dari dalam mobil tanpa sepengetahuan siapapun.
Hanya Tuhan yang tahu.
"Ooohhh ini bu Amidah.
Oohh jangan-jangan bunda adalah wanita bercadar yang dia ceritakan itu ?"
"Memangnya dia cerita apa pada ustadzah ?"
"Dia bercerita banyak, intinya dia minta pendapat saya, uang 5 juta itu baiknya digunakan untuk apa ?
dia ingin mengakhiri dunia kelamnya.
Saya sarankan untuk membuka warung sembako."
"Uang 5 juta ?" Inara mengulang
"Iya bunda, isi amplop itu uang 5 juta."
_"Kenapa bu Amidah minta pendapat pada ustadzah ?"_
"Sebab anak-anak bu Amidah mengaji pada saya.
Anaknya yang sulung juga pernah bercerita banyak hal tentang ibunya dan juga tentang uang dari langit yang diberikan oleh malaikat bercadar."
"Malaikat bercadar ?"
"Iyaa, begitulah bu Amidah menyebut anti, bunda Inara.
Oh ya, sekarang bu Amidah telah mulai berjilbab bunda."
Hati Inara tersentak.
Ada yang melonjak disudut hatinya.
Matanya berkaca - kaca menatap lekat mata bening ustadzah Riska.
Sore itu ustadzah Riska menceritakan banyak hal perihal bu Amidah dan Yahya.
Sebelum berpamitan Inara berpesan sesuatu pada ustadzah Riska.
"Ustadzah, mohon rahasiakan identitas malaikat bercadar. Saya hanya ingin tahu bagaimana keadaan beliau saat ini.
Namun informasi dari ustadzah sudah lebih dari cukup bagi saya. Mohon kiranya ustadzah berkenan meneruskan tangan saya untuk membimbing bu Amidah agar tidak kembali tergelincir ke lembah kelam."
"Baik bunda, insyaa Allah."
Dalam perjalanan pulang, Inara bergumam dalam hatinya,
“Ya Allah benarlah, ENGKAU memang membenci perbuatan dosa, namun ENGKAU tidak membenci pendosa. KAU selalu ulurkan tangan bagi mereka yang bersedia untuk KAU angkat."
Kita tidak pernah tahu ada tangisan apa dibalik tawa. Kita juga tidak pernah tahu ada kebahagiaan apa dibalik tangisan.
x



